Benarkah Gangguan Kulit Anakku karena Minyak Kayu Putih atau minyak Telon ?

wp-1495417822768.Benarkah Gangguan Kulit Anakku karena Minyak Kayu Putih atau minyak Telon ?

Banyak  orangtua bahkan sebagian klinisi berpendapat bahwa penderita bayi dengan gangguan kulit kemerahan pada punggung dan kadang dada dianggap penyebabnya adalah minyak telon atau kayu putih. Ternyata bila dicermati penyebab alergi karena minyak oles bila dicermati tidak sepenuhnya benar. Sehingga banyak orangtua menganggap bahwa gangguan alergi kulit anaknya yang sering mucul awalnya kemerahan dan saat hari ke 6 muncul kering atau terkelupas dianggap karena karena alergi minyak kayu putih. Sehingga anak direkomendasikan untuk diberikan tidak memakai minyak telon dan minyak kayu putih. Alhasil orangtua selama ini sudah bertahun tahun bertahun tahun sangat anti terhadap penggunaan minyak kayu putih dan miyak telon. Padahal bila dicermati biasanya minyak oles tersebut bukan penyebab utama tetapi kalaupun berpengaruh hanya memperberat gangguan kulit saat alergi timbul. Buktinya sebelumnya telah berbulan bulan memakai minyak oles tersebut biasa tidak masalah.Bukti lain saat minyak oleh tersebut dioleskan ke bagian sebagian besar tubuh bayi yang terganggua hanya punggung dan dada. Tetapi Tangan, kaki dan perut yang tidak diolesi minyak kayu putih tidak masalah.  Bukti lain juga menunjukkan meski sudah menghindari minyak oles tersebut ternyata gangguan kulit di dada dan punggung tetap juga sering muncul. Minyak oles tersebut sangat mungkin hanya berpengaruh memperberat atau membuat kulit lebih kering dan kasar. Banyak kasus saat alerginya terkendali saat tertentu meski memakai minyak oles tidak tidak mempengaruhi gangguan kulit. Meski mungkin bisa saja ada beberapa kasus komposisi minyak telon atau minyak kayu putih ada yang mengalami alergi biasanya  sangat jarang sekali  terjadi alergi minyak olesi karena  komposisinya bukan kimiawi dan herbal yang sebagian besar biasanya bersifat hipoalergenik.

Dermatitis atopik (DA) pada bayi adalah penyakit kulit reaksi inflamasi yang didasari oleh faktor herediter dan faktor lingkungan, bersifat kronik residif dengan gejala eritema, papula, vesikel, kusta, skuama dan pruritus yang hebat. Bila residif biasanya disertai infeksi, atau alergi, faktor psikologik, atau akibat bahan kimia atau iritan.

  • Dermatitis atopik atau eksema adalah peradangan kronik kulit yang kering dan gatal yang umumnya dimulai pada awal masa kanak-kanak. Eksema dapat menyebabkan gatal yang tidak tertahankan, peradangan, dan gangguan tidur.  Penyakit ini dialami sekitar 10-20% anak. Umumnya episode pertama terjadi sebelum usia 12 bulan dan episode-episode selanjutnya akan hilang timbul hingga anak melewati masa tertentu. Sebagian besar anak akan sembuh dari eksema sebelum usia 5 tahun. Sebagian kecil anak akan terus mengalami eksema hingga dewasa.
  • Penyakit ini dinamakan dermatitis atopik oleh karena kebanyakan penderitanya memberikan reaksi kulit yang didasari oleh IgE dan mempunyai kecenderungan untuk menderita asma, rinitis atau keduanya di kemudian hari yang dikenal sebagai allergic march. Walaupun demikian, istilah dermatitis atopik tidak selalu memberikan arti bahwa penyakit ini didasari oleh interaksi antigen dengan antibodi. Nama lain untuk dermatitis atopik adalah eksema atopik, eksema dermatitis, prurigo Besnier, dan neurodermatitis.
  • Diperkirakan angka kejadian di masyarakat adalah sekitar 1-3% dan pada anak < 5 tahun sebesar 3,1% dan prevalensi DA pada anak  meningkat 5-10% pada 20-30 tahun terakhir.
  • Sangat mungkin peningkatan prevalensi ini berasal dari faktor lingkungan, seperti  bahan kimia industri, makanan olahan, atau benda asing lainnya. Ada dugaan bahwa peningkatan ini juga disebabkan perbaikan prosedur diagnosis dan pengumpulan data.

Faktor Penyebab dan Pencetus

  • Makanan Berdasarkan hasil Double Blind Placebo Controlled Food Challenge (DBPCFC), hampir 40% bayi dan anak dengan DA sedang dan berat mempunyai riwayat alergi terhadap makanan. Bayi dan anak dengan alergi makanan umumnya disertai uji kulit (skin prick test) dan kadar IgE spesifik positif terhadap pelbagai macam makanan. Walaupun demikian uji kulit positif terhadap suatu makanan tertentu, tidak berarti bahwa penderita tersebut alergi terhadap makanan tersebut, oleh karena itu masih diperlukan suatu uji eliminasi dan provokasi terhadap makanan tersebut untuk menentukan kepastiannya.
  • Alergen hirup Alergen hirup sebagai penyebab DA dapat lewat kontak, yang dapat dibuktikan dengan uji tempel, positif pada 30-50% penderita DA, atau lewat inhalasi. Reaksi positif dapat terlihat pada alergi tungau debu rumah (TDR), dimana pada pemeriksaan in vitro (RAST), 95% penderita DA mengandung IgE spesifik positif terhadap TDR dibandingkan hanya 42% pada penderita asma di Amerika Serikat. Perlu juga diperhatikan bahwa DA juga bisa diakibatkan oleh alergen hirup lainnya seperti bulu binatang rumah tangga, jamur atau ragweed di negara-negara dengan 4 musim.
  • Infeksi kulit Penderita dengan DA mempunyai tendensi untuk disertai infeksi kulit oleh kuman umumnya Staphylococcus aureus, virus dan jamur. Stafilokokus dapat ditemukan pada 90% lesi penderita DA dan jumlah koloni bisa mencapai 107 koloni/cm2 pada bagian lesi tersebut. Akibat infeksi kuman Stafilokokus akan dilepaskan sejumlah toksin yang bekerja sebagai superantigen, mengaktifkan makrofag dan limfosit T, yang selanjutnya melepaskan histamin. Oleh karena itu penderita DA dan disertai infeksi harus diberikan kombinasi antibiotika terhadap kuman stafilokokus dan steroid topical.

Referensi:

  • Turner JD, Schwartz RA. Atopic dermatitis. A clinical challenge. Acta Dermatovenerol Alp Panonica Adriat. 2006 Jun. 15(2):59-68.
  • Ong PY, Leung DY. Immune dysregulation in atopic dermatitis. Curr Allergy Asthma Rep. 2006 Sep. 6(5):384-9.
  • Oranje AP, Devillers AC, Kunz B, et al. Treatment of patients with atopic dermatitis using wet-wrap dressings with diluted steroids and/or emollients. An expert panel’s opinion and review of the literature. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2006 Nov. 20(10):1277-86.
  • Flohr C, Yeo L. Atopic dermatitis and the hygiene hypothesis revisited. Curr Probl Dermatol. 2011. 41:1-34.
  • Stelmach I, Bobrowska-Korzeniowska M, Smejda K, Majak P, Jerzynska J, Stelmach W, et al. Risk factors for the development of atopic dermatitis and early wheeze. Allergy Asthma Proc. 2014 Sep. 35(5):382-389.
  • Hanifin JM, Rajka G. Diagnostic features of atopic dermatitis. Acta Derm Venreol. 1980. 92:44-7.
  • Mrabet-Dahbi S, Maurer M. Innate immunity in atopic dermatitis. Curr Probl Dermatol. 2011. 41:104-11.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s