Penyebab Diare Kronis Berkepanjangan dan Penangannya


Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari sejak awal diare.
Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan:

  1. Lama waktu: akut atau kronik
  2. Mekanisme patofisiologi: sekretorik, osmotic, dll
  3. Berat ringannya diare : ringan atau berat
  4. Penyebab infeksi atau tidak : infektif atau non infektif
  5. Penyebab organic atau tidak : organic atau fungsional
  1. Waktu dan frekuensi diare
  2. Bentuk tinja
  3. Keluhan lain yang menyertai seperti nyeri abdomen, demam, mual muntah, penurunan berat badan
  4. Obat-obatan: laksan, antibiotika, imunosupresan, dll
  5. Makanan/minuman

Keadaan umum, status dehidrasi

  1. Pemeriksaan tinja,darah, urin
  2. Pemeriksaan anatomi usus sesuai indikasi: barium enema/Colon in loop (didahului BNO) , kolonoskopi, ileoskopi, dan biopsy, barium follow thorugh atau enteroclysis, USG abdomen, CT Scan abdomen
  3. Fungsi usus dan pankreas: tes fungsi pankreas, CEA dan CA 19-9

Penyebab

  • Kondisi peradangan yang dapat menyebabkan diare kronis antara lain kolitis ulserativa dan penyakit Crohn. Kondisi ini dapat menyebabkan tinja disertai dengan darah dan sakit perut.
  • Untuk diare kronis, biasanya sampel tinja akan diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini antara lain untuk melihat peningkatan sel darah putih, yang merupakan pertanda adanya peradangan di tubuh. Juga untuk mengetahui keberadaan suatu bakteri atau parasit di dalam tinja yang mana keduanya dapat menyebabkan tinja menjadi encer. Selain itu pemeriksaan lab untuk tinja juga dapat mengetahui keberadaan lemak di dalamnya, yang dapat mengindikasikan adanya pankreatitis kronis (kerusakan pankreas akibat peradangan kronis yang berkepanjangan) atau penyakit seliaka.

  • Alergi makananan
  • Ingekai virus saluran napas akut, rhinitis, common cold, bonkitis dapatnmemicu diare kronis
  • Diet atau makanan juga bisa menjadi penyebab diare kronis. Bahan-bahan makanan tertentu diketahui dapat mempercepat laju organ pencernaan, menyebabkan makanan melewati usus besar dengan cepat sehingga penyerapan kurang dan tinja menjadi encer. Penyebab umumnya adalah susu dan pemanis buatan (sorbitol dan fruktosa).

  • Obat-obatan – NSAID (obat anti inflamasi non steroid), antibiotik, antasida
  • Diabetes
  • Ketidakpekaan terhadap gluten
  • Penyalahgunaan alkohol.

Jika pemeriksaan darah atau sampel tinja belum dapat mengidentifikasi penyebab diare, dokter mungkin akan melakukan USG atau CT-Scan pada bagian perut, tetapi hal ini biasanya dilakukan jika memiliki gejala lain seperti nyeri hebat atau tinja mengandung darah. Tes pencitraan ini akan dapat mengetahui masalah pada organ pencernaan. Untuk kasus tertentu, kolonoskopi mungkin juga akan dilakukan guna melihat kondisi lapisan usus, pankreas dan kolon.

Terkadang, penyebab diare kronis tidak diketahui penyebabnya. Jika dokter belum menemukan penyebabnya dalam pemeriksaan diagnostik, dokter mungkin akan mengaitkan penyebab diare kronis dengan sindrom iritasi usus besar / irritable bowel syndrome (IBS). Kondisi ini mempengaruhi usus besar dan menyebabkan berbagai gejala seperti diare, konstipasi, kembung, mual, sakit perut. IBS bisa bersifat kronis, tapi tidak merusak usus besar.

Pengobatan diare kronis

  • Obat anti diare dapat mengurangi diare, namun obat-obat semacam ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang.
  • Pengobatan untuk diare kronis akan tergantung dari penyebabnya. Misalnya, jika Anda didiagnosis dengan kondisi medis seperti kolitis ulserativa, penyakit Crohn, pankreatitis, atau penyakit seliaka, dokter akan memberikan jenis pengobatan yang sesuai dengan penyebabnya. Pengobatannya mungkin termasuk penggunaan obat seperti imunosupresan atau kortikosteroid.

Pengobatan diare kronik ditujukan terhdap penyakit yang mendasari. Sejumlah obat anti diare dapat digunakan pada diare kronik. Opiate mungkin dapat digunakan dengan aman pada keadaan gejala stabil.

  1. Loperamid : 4 mg dosis awal, kemudian2 mg setiap mencret. Dosis maksimum 16 mg/hari
  2. Klonidin: β2 adrenergic agonis yang menghambat sekresi elektrolit intestinal, diberikan 0,1-0,2 mg/hari selama 7 hari. Bermanfaat pada pasien dengan diare sekretorik, kriptosporodiosis dan diabetes
  3. Octreotide: suatu analog somatostatin yang menstimulasi cairan instestinal dan absoprsi elektrolit dan menghambat sekresi melalui pelepasan peptide gastrointestinal. Berguna pada pengobatan diare sekretori yang disebabkan oleh vipoma dan tumor carcinoid dan pada beberapa kasus diare kronik yang berkaitan dengan AIDS. Dosis efektif 50mg-250mg subkutan tiga kali sehari
  4. Cholestiramin: mengikat garam empedu dan mencegah reabsorpsinya, berguna pada pasien diare sekunder karena garam empedu akibat reseksi intestinal atau penyakit ileum. Dosis 4 gr 1 s/d 3 kali sehari
  5. Atapulgit, biasanya dosis yang diberikan 3×2 tablet selama diare

Dehidrasi sampai syok hipovolemik, sepsis, gangguan elektrolit, dan asam basa/gas darah, Gagal ginjal akut, kematian.

  1. Kolopaking SM.Pendekatan Diagnostik Diare Kronik.Dalam Alwi I, Setiati S,Setiyohadi B, Simadibrata M,Sudoyo AW.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V.Jakarta:Interna Publishing;2010: 534-559
  2. McQuaid K.Chronic Diarrhea. In Lawrence M.Current Medical Diagnosis & Treatment 37th Ed.Prentice Hall International Inc.1998:544
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s